Dibius Pesona Telaga Ngebel di Lereng Wilis

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang Ponorogo for Long Weekend, pagi tadi selepas sarapan saya mengunjungi salah satu objek wisata di Ponorogo yang sudah ada dalam list jalan – jalan. Berbekal perpaduan aplikasi modern ‘google maps’ dan aplikasi klasik ‘malu bertanya sesat di jalan’, akhirnya saya berhasil sampai di tujuan tersebut tepat pukul 07.30 WIB. Objek wisata yang menjadi incaran jejak saya kali ini adalah Telaga Ngebel. Telaga yang sarat cerita ini, sukses membuat saya bergumam ‘wooww…what a beatiful place’ saat tiba di sana.

Di setengah perjalanan, hawa dingin sudah mencumbui tubuh saya yang hanya dibalut jaket tipis ala kadarnya. Maklum, Telaga Ngebel terletak di lereng Gunung Wilis dengan suhu berkisar antara 20-26 derajat celcius. Sesampainya di sana, kabut sedang menutupi beberapa bagian permukaan telaga. Mungkin efek saya yang datang terlalu pagi, serta ditambah cuaca yang memang sedang mendung.

Telaga Ngebel Yang Masih Tertutup Kabut
Telaga Ngebel Yang Masih Tertutup Kabut

Belum sempat mengitari telaga cukup jauh, rintik-rintik hujan sudah perlahan menyapa. Saya buru-buru mencari tempat berteduh. Beruntung di pinggiran Telaga Ngebel ada beberapa tempat makan yang lumayan besar dan bersih. Jadilah saya berteduh sebentar di sana. Tidak rugi juga sih. Selain bisa minum secangkir kopi panas, saya bisa puas melihat ke sekeliling telaga yang sedang benar-benar dipeluk kabut lebih tebal dari sebelumnya.

Menikmati Telaga Ngebel Dari Latung Water Bus

Begitu hujan reda, saya langsung melanjutkan perjalanan menyusuri telaga. Di kejauhan tadi saya sempat melihat beberapa ‘sepeda air berbentuk bebek’ terparkir rapi.

Dulu saat saya masih kecil, di Kalimantan, saya pernah naik ‘sepeda bebek’ di danau wisata yang terletak tidak jauh dari rumah. Saya sering memaksa ayah untuk membiarkan saya mengayuh dengan kaki kecil yang sebenarnya belum cukup panjang dan kuat untuk beradu dengan sadel sepeda air. Alhasil, saya tidak pernah berhasil membawa sepeda air itu ke tengah danauĀ šŸ˜€

Naik 'Bebek-Bebekan' Keliling Telaga Seru Juga Kali Ya
Naik ‘Bebek-Bebekan’ Keliling Telaga Seru Juga Kali Ya

Ah, okey, lupakan. Back to Telaga Ngebel. Ternyata kalau mau naik sepeda air berbentuk bebek itu, saya harus menuju keĀ dermaga kecil yang ada di sisi lain telaga. Selain sepeda air, ternyata ada juga speedboat dan waterbus yang bisa disewa untuk menikmati keindahan Telaga Ngebel dari tengah-tengah telaga.

Ada Water Bus Juga Loh
Ada Water Bus Juga Loh

Soal harga, cukup bersahabat dengan kantong. Kalau saya, akhirnya lebih memilih menunggu untuk naik waterbus. Selain ukurannya yang lebih besar dan harga tiket yang murah, pergerakan waterbusĀ ini juga lumayan pelan ketika mengitari telaga sehingga saya bisa lebih lamaĀ menikmati suasana di tengah telaga.

Bagaimana rasanya saat menikmati Telaga Ngebel dengan waterbus? Luar biasa! Saya cuma bisa diam melihat sekeliling sambil sesekali mengabadikan beberapa view cantik dengan kamera. Beban-beban pekerjaan kantor yang menumpuk rasanya seperti terbawa angin, lalu jatuh di tengah telaga, dan perlahan tenggelam di sana. *seriously*

Warung-Warung Kecil di Sekitar Telaga Ngebel

Selesai perjalanan mengitari telaga dengan waterbus, berhubung saya masih ‘agak goyang’ terbawa pengaruh terayun-ayun di atas waterbus, saya memutuskan untuk duduk sebentar sebelum pulang.

Sesaat saya hanya diam memperhatikan sekitar. Cukup banyak warung-warung yang menjual makanan dan minuman.Ā Warung-warung di sekitar dermaga kecil ini agak berbeda dengan tempat makan di sisi telaga lain yang sebelumnya menjadi tempat saya berteduh.

Pengunjung Bersantai Sambil Menikmati Santapan di Pinggiran Telaga
Pengunjung Bersantai Sambil Menikmati Santapan di Pinggiran Telaga

Warung makan di sini masih berupa tenda-tenda. Makanan yang dijual terbilang makanan-makanan yang lebih ringkas seperti mie instan, bakso, serta gorengan. Cocoklah buat dimakan sambil menikmati suasana Telaga Ngebel šŸ˜€

Warung Makan di Sekitar Telaga
Warung Makan di Sekitar Telaga

Mitos Telaga Ngebel

Setelah bosan ketap ketip sendiri, nampaknya sedikit berbincang dengan bapak parkir menjadi pilihan yang cukup masuk akal ketimbang saya terus-terusan duduk bengong di pinggir telaga.Ā Dari sekian banyak obrolan, yang paling menarik adalah mitos seputar Telaga Ngebel.

Konon ceritanya, Telaga Ngebel erat dihubung-hubungkan dengan kisah seekor ular naga bernamaĀ Baru KlintingĀ yang diburu oleh masyarakat setempat untuk dijadikan makanan. Setelah Ular naga tersebut dipotong-potong, secara ajaib berubah menjadi jelmaan seorang anak kecil yang kemudian mendatangi masyarakat untuk mengadakan sayembara mencabut sebuah lidi yang ditancapkan ke tanah.

Tidak ada seorang pun Ā yang berhasil mencabut lidi tersebut. Lalu si anak kecil itu sendirilah yang berhasil mencabut lidi yang tertancap di tanah. Dari bekas lidi itu keluar air yang kemudian terus menggenang menjadi Telaga Ngebel saat ini.

Ayo Ke Telaga Ngebel
Ayo Ke Telaga Ngebel

Mendengar cerita tersebut, saya jadi teringat mitos yang hampir serupa di tempat objek wisata lain di Jawa Tengah. Mirip-mirip, tapi entah mana yang lebih benar.

Hmm…, baiklah. Kali ini saya benar2 terbius oleh pesona Telaga Ngebel. Selain menawarkan panorama yang masih sangat asri dan belum banyak terjamah pembangunan, tempat ini juga menawarkan banyak kisah menarik. Mengeksplore keindahan alam tidak selalu hanya soal membidik keindahannya saja, tapi juga tentang kisah menarik di baliknya šŸ™‚

Leave a Reply