Menikmati Denyut Sungai Kahayan

Pulang kampung selama 11 hari ke Palangka Raya ternyata bukan waktu yang panjang. Tidak terasa sudah harus kembali ke perantauan. Masih rindu kota ini. Akhirnya tadi saya sempatkan saja untuk menikmati sore terakhir di pinggiran Sungai Kahayan dari sebuah dermaga kecil yang tidak jauh dari pusat kota. Tepatnya di seberang Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Tengah.

Dari dermaga kecil di pinggir sungai kahayan ini, saya bisa melihat dengan jelas kegagahan Jembatan Kahayan, salah satu icon Kota Palangka Raya.

"<yoastmark

Jembatan ini dibangun pada tahun 1995 dan baru selesai pada tahun 2001. Panjangnya  mencapai 640 meter dengan lebar 9 meter. Jembatan Kahayan  membelah Sungai Kahayan dan memberikan kemudahan akses dari pusat Kota Palangka Raya menuju beberapa kabupaten lain di Kalimantan Tengah.

Sebelum ada Jembatan Kahayan, masyarakat dari desa atau kabupaten lain yang ingin bepergian dari dan ke Kota Palangka Raya harus menyeberang menggunakan perahu penyeberangan. Jelas sangat memakan waktu dan biaya.

Sebentar tatapan saya sempat tertuju pada bagian bawah jembatan. Memang sedang tidak ada yang istimewa. Saya hanya tiba-tiba teringat pada cerita (horor) menarik yang beredar di masyarakat, yaitu cerita tentang si buaya putih yang konon tinggal di sungai bagian bawah Jembatan Kahayan.

Cerita tentang misteri buaya putih yang sukses membuat penasaran tim ‘Mister Tukul Jalan-Jalan’ untuk mencoba menjajal salah satu episode programnya di Jembatan Kahayan ini. Cerita tersebut benar atau tidak, entahlah…

Masih dari dermaga, saya melempar pandangan ke sisi lain sungai. Selain Jembatan Kahayan, hal lain yang tidak kalah menarik adalah rumah-rumah terapung yang berada di pinggiran sungai. Masyarakat Dayak biasa menyebutnya lanting.

Deretan Lanting di Pinggir Sungai Kahayan

Lanting menjadi salah satu denyut Sungai Kahayan yang cukup khas. Selain menjadi tempat tinggal, ada pula lanting yang bentuknya lebih sederhana, hanya berupa sebuah ‘jambandengan bagian depan yang sedikit luas untuk tempat mencuci dan mandi. Jadi, bagi yang mau coba-coba untuk mandi di sungai, cek dulu sekitarnya supaya tidak mendadak dapat zonk 😀

Kebetulan sekali, tidak lama berselang, deru perahu klotok terdengar. Ini juga tidak kalah khas menjadi denyut Sungai Kahayan. Perahu klotok merupakan alat transportasi khas masyarakat Dayak yang biasanya dibuat dari kayu-kayu berbahan keras seperti ulin.

Perahu klotok dijalankan dengan mesin berbahan bakar solar. Jika kita masuk lebih jauh ke daerah pedalaman Kalimantan Tengah yang infrastruktur jalan daratnya masih sangat minim, maka perahu klotok masih menjadi sarana transportasi andalan masyarakat untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain.

Yang tidak kalah mencuri perhatian saya dan pengunjung lain yang berada di dermaga adalah proses pengakutan kayu. Kebetukan lewat kapal-kapal kecil yang sedang melakukan proses pengangkutan kayu gelondongan (log) melalui air dengan menggunakan konstruksi rakit.

Pengangkutan log dengan cara ini sudah digunakan sejak lama sebab dari segi biaya tidak terlalu mahal. Selain itu, bisa jadi pula karena kayu-kayu yang diangkut tersebut berasal dari daerah yang tidak memungkinkan untuk diangkut menggunakan transportasi darat.

Benar-benar pemandangan yang tidak bisa saya lihat setiap hari kalau sudah kembali ke perantauan. Pasti kan rindu sekali harus menunggu beberapa bulan ke depan untuk bisa merasakannya kembali 🙂

6 thoughts on “Menikmati Denyut Sungai Kahayan”

  1. Pertama tahu Sungai Kahayan dari sebuah cerita bersambung di majalah anak-anak tentang anak suku Dayak yang tinggal di pedalaman Kalimantan dan berbekal rasa ingin tahunya, ia menyelidiki peternakan ikan buas yang ternyata ilegal.

    Sekarang… tambah penasaran pengen lihat.. dan melanjutkan petualangan di Kalimantan :p

Leave a Reply