Monumen Kresek Madiun : Potret Kelam Sejarah ‘Kekirian’ di Indonesia

Bulan Mei 2016 kemarin isu mengenai bangkitnya kembali PKI di Indonesia menjadi trending topic, bahkan hingga ke kalangan remaja. Bicara soal PKI, saya jadi ingat tahun lalu saya sempat berkunjung ke Monumen Kresek saat menengok adik yang sedang bertugas di salah satu rumah sakit di Madiun. Adik saya tinggal bersama rekan sejawatnya di Desa Dungus.

Rumah sederhana, udara yang sejuk, dan jauh dari bisingnya kendaraan membuat saya betah leyeh-leyeh manis di rumah.  Awalnya begitu, sampai kemudian adik membuat saya sedikit was-was dengan mengingatkan untuk diam saja kalau mendengar ‘suara – suara tak berwujud’ dari lapangan di seberang rumah. Konon katanya itu adalah ‘sisa-sisa’ dari peristiwa pemberontakan PKI di tahun 1948. Ehh…??!

Yaps, di tahun 1948, PKI pernah menorehkan sejarah kelam di Madiun yang dikenal dengan sebutan Peristiwa Madiun (Madiun Affair). Saat itu PKI yang dipimpin oleh Musso memberontak pada Pemerintah RI dengan mengambilalih Madiun dan sempat memproklamasikan Republik Soviet Indonesia. Banyak pejabat, TNI, tokoh agama, dan rakyat biasa yang menjadi korban keganasan PKI pada peristiwa tersebut.

Desa Kresek, Madiun
Desa Kresek, Madiun

Monumen Kresek : Potret Kelam Peristiwa Madiun 1948

Hari kedua di Madiun, saya diajak oleh adik untuk berkunjung ke Desa Kresek. Lokasinya tidak jauh dari rumah tempat adik saya tinggal, hanya sekitar 10 menit dengan mengendarai sepeda motor, atau kalau dari Kota Madiun jarak tempuh menuju Desa Kresek kurang lebih 8 KM. Di Desa Kresek, saya diajak untuk mengunjungi sebuah monumen yang sengaja dibuat untuk mengenang Peristiwa Madiun 1948, namanya Monumen Kresek. Katanya, kurang afdol kalau ke Madiun, apalagi sudah ada dekat dengan Desa Kresek, tapi tidak berkunjung ke Monumen Kresek.

Monumen Kresek Madiun
Monumen Kresek Madiun

Di Monumen Kresek terdapat beberapa patung, relief, dan prasasti yang masing – masing berisikan pesan dan cerita terkait Peristiwa Madiun 1948. Konon ceritanya area Monumen Kresek ini dulunya adalah area perumahan warga yang dijadikan sebagai tempat penyekapan dan pembantaian para tawanan PKI.

Ada empat hal yang menarik bagi saya di Monumen yang diresmikan oleh H. Sularso – Gubernur Jawa Timur pada tahun 1991 ini. Pertama, yaitu patung besar yang terletak di bagian atas monumen. Patung tersebut adalah patung Musso sang pemimpin PKI yang sedang membawa pedang dan akan memenggal kepala seorang Kiai.

Saat itu, tokoh – tokoh besar Islam dan pesantren memang menjadi salah satu sasaran amuk PKI karena dianggap sebagai musuh yang tidak pro pada ideologi PKI. Kedua, beberapa patung anak kecil yang berada di sisi timur patung Musso.

Patung – patung tersebut menjadi simbol anak – anak korban keganasan PKI yang memohon belas kasihan kepada Pemerintah RI agar segera menghentikan kegiatan PKI di Madiun. Ketiga, ada pula relief peristiwa 1948 dan prasasti peresmian Monumen Kresek.

Prasasti peresmian ini berisi pesan agar generasi muda tetap mempertahankan Pancasila serta UUD 1945. Keempat, prasasti yang terletak di bagian bawah dekat pintu masuk yang diukir dengan nama – nama para korban dari Peristiwa Madiun 1948.

Di depan prasasti tersebut pula konon katanya pernah ada sumur yang digunakan untuk membuang dan mengubur hidup – hidup para tahanan PKI. Sumur tersebut telah ditutup dan di atasnya sudah dibuat relief para korban PKI. Hmm…

Ke Madiun? Yuk, Mampir Ke Monumen Kresek

Selain menjadi tempat untuk melihat kembali sejarah pemberontakan dan pembantaian yang dilakukan oleh PKI di Madiun pada tahun 1948, Monumen Kresek juga dikembangkan menjadi objek rekreasi yang dilengkapi dengan fasilitas permainan anak, balai pertemuan, dan kios – kios kuliner. Tidak perlu khawatir kehausan atau kelaparan saat berkunjung ke Monumen Kresek. Tempat ini  kalau dikunjungi pada pagi sampai sore hari tidak seram – seram amat seperti pada saat terjadinya peristiwa 1948 kok, suerrr…!

Monumen Kresek bisa menjadi salah satu tempat yang patut masuk list jalan – jalan jika sedang berkunjung ke Madiun. Langsung di lokasi yang pernah menjadi saksi bisu Peristiwa Madiun 1948, kita bisa tahu dan melihat sendiri lebih dekat tentang potret kelam salah satu sejarah ‘kekirian’ yang pernah terjadi di Indonesia.

Ada benarnya nih ungkapan ‘peristiwa di masa lalu adalah salah satu guru terbaik’.  Kita bisa belajar banyak dari sejarah bangsa di masa lalu untuk bisa menjadi generasi yang lebih baik di masa sekarang dan di masa yang akan datang.

Ah sayangnyaaaaaaa, transportasi menuju Desa Kresek masih cukup sulit sebab belum ada angkutan umum yang menuju ke sana. Alternatif selain menggunakan kendaraan pribadi, dari Kota Madiun ke Desa Kresek bisa menggunakan ojek dengan tarif sekitar Rp 35.000,- sekali jalan. Bisa juga lebih murah, asal pintar – pintar nego saja sama tukang ojeknya, hehee…

 

3 thoughts on “Monumen Kresek Madiun : Potret Kelam Sejarah ‘Kekirian’ di Indonesia”

  1. Belajar sejarah langsung di tempat kejadian, apalagi kalau berbekal informasi dari sumber terpercaya pasti lebih menyenangkan..

    Tapi, sepertinya saya gak berani berkunjung ke sini deh..udh bayangin yg “iya-iya” aja

    1. Emm.. datengnya ramean aja, biar nggak kejadian yg “iya-iya” itu 😀

      Soal bekal informasi, bener banget mbak / mas. Itu juga salah satu poin pentingnya. Makasih sudah ditambahkan di komen. Kalau dari awal memang berencana ke sana ada baiknya sudah berbekal informasi dari sumber terpercaya, jadi lebih enak pas keliling. Masih minim papan informasi juga soalnya di sana.

  2. Mbak Anga, menarik sekali tulisan ini. Seperti nggak ada habisnya memperbincangkan komunis di negara kita ini. Seolah bahaya bagi kita hanya komunis, bukan kemiskinan, kesenjangan, apalagi korupsi. Hehe. Perjalanan dan ingatan, keduanta memang tak terpisahkan.

Leave a Reply