Melihat Rupa Vihara Buddhagaya Watu Gong

Siang itu, udara sedang panas – panasnya ketika saya menunggu bis di daerah Banyumanik. Untungnya bus ekonomi jurusan Semarang – Ambarawa yang akhirnya saya tumpangi sedang tidak begitu ramai. Saya sedang iseng ingin mencoba menjejaki salah satu tempat wisata religi yang cukup terkenal di Semarang, yaitu Vihara Buddhagaya Watu Gong.

Seumur – umur tinggal berpindah dari Salatiga hingga Semarang, saya belum pernah sama sekali berkunjung ke sana. Vihara yang konon katanya merupakan vihara umat Buddha yang pertama di Jawa Tengah ini sebenarnya sudah lama mencuri perhatian saya. Saya penasaran ada apa dan seperti apa rupa di dalamnya.

Saat sampai di gerbang utama Vihara Buddhagaya, saya terlebih dahulu diminta mengisi buku tamu oleh petugas yang sedang berjaga. Tidak ada tarif khusus yang dikenakan kepada pengunjung yang ingin masuk. Pengunjung hanya diminta untuk memberikan sumbangan seikhlasnya saja.

Tidak jauh dari gerbang utama, di sisi kiri yang berlawanan dengan arah masuk kendaraan menuju halaman parkir, ada sebuah gerbang kecil yang juga bisa menjadi akses masuk ke dalam kompleks Vihara Buddhagaya. Saya memilih untuk masuk melalui gerbang kecil itu saja.

Watu Gong

Di depan gerbang kecil tersebut, saya menemukan sebuah batu (dalam bahasa jawa : watu) yang bentuknya mirip gong. Konon katanya, batu inilah yang menjadi asal usul sehingga daerah di sekitar Vihara Buddhagaya diberi nama ‘watu gong’.

Dari gerbang kecil ini, saya baru bisa melihat lebih banyak bagian dalam Vihara Buddhagaya. Saya baru ngeh kalau ternyata vihara ini berupa kompleks yang sangat luas. Di dalamnya terdapat banyak patung dan beberapa bangunan.

Dua di antara beberapa bangunan di Vihara Buddhagaya yang nampak sangat menarik, yaitu Vihara Dhammasala dan Pagoda Avalokitesvara. Keduanya memang selalu menjadi ‘buruan’ pengunjung ketika datang ke Vihara Buddhagaya.

Vihara Dhammasala : Beribadah Sembari Merenungi Proses Kehidupan

Vihara Dhammasala merupakan bangunan yang sering digunakan sebagai tempat sembahyang oleh para umat Buddha. Bangunan vihara ini terdiri dari dua lantai. Saya kurang tahu ada apa di lantai satu karena saya hanya sempat melihat – lihat di lantai dua saja.

Di lantai dua, hanya ada sebuah ruangan besar. Ruangan tersebut merupakan  ruang ibadah dengan sebuah patung Buddha di dalamnya. Untuk masuk ke dalam, pengunjung diharuskan untuk melepas alas kaki terlebih dahulu.

Yang menarik perhatian saya, pada seluruh dinding bangunan di lantai dua Vihara Dhammasala dihiasi dengan relief. Relief tersebut bercerita tentang Pattica Samuppada, yaitu cerita tentang proses kehidupan manusia dari lahir hingga meninggal dunia.

Relief

Rasanya tepat jika dikatakan bahwa di Vihara Dhammasala ini umat tidak hanya sekedar datang untuk sembahyang. Umat sekaligus dapat pula sambil merenung dan mengoreksi diri tentang bagaimana proses kehidupan yang sudah dijalani sehingga ke depannya dapat melakukan perbaikan dalam proses hidupnya.

Cantiknya Pagoda Avalokitesvara

Selanjutnya, dari Vihara Dhammasala, saya dapat melihat bangunan lain yang menjulang tinggi dan nampak sangat cantik. Bangunan ini menjadi salah satu icon andalan dari Vihara Buddhagaya, yaitu Pagoda Avalokitesvara. Pagoda Avalokitesvara juga dikenal dengan nama Pagoda Metakaruna yang berarti Pagoda Cinta dan Kasih Sayang.

Bangunan pagoda ini berbentuk persegi delapan dan menyempit ke atas. Sayangnya tidak ada akses tangga untuk naik hingga ke puncak Pagoda.

Jika diperhatikan dari luar, Pagoda Avalokitesvara terdiri dari 7 tingkat dan di empat penjuru pada enam tingkatannya terdapat beberapa patung Dewi Kwan Im yang dikenal sebagai dewi kasih sayang.

Melihat ke dalam Pagoda Avalokitesvara, ada sebuah ruang yang disediakan sebagai tempat berdoa. Di dalamnya terdapat patung Kwan Sie Im Po Sat yang berukuran besar.

Bangunan Pagoda Avalokitesvara didominasi warna merah dengan banyak ukiran – ukiran cantik pada beberapa titik. Beberapa patung lain yang diletakkan di bagian dalam Pagoda Avalokitesvara pun menambah nuansa sakral di pagoda ini.

Kalau mau turun sedikit ke bagian kiri bawah Pagoda Avalokitesvara, kita bisa menemukan sebuah patung yang cukup unik, yaitu patung Buddha dalam posisi tidur. Jika dibandingkan dengan patung Buddha tidur yang pernah saya lihat di Long Son Pagoda Nha Trang Vietnam, patung Buddha tidur di Pagoda Avalokitesvara ini ukurannya memang tidak terlalu besar.

Yang tidak kalah menarik pandangan mata saya dari kawasan di sekitar Pagoda Avalokitesvara adalah sebuah pohon besar yang terletak di bagian bawah depan pagoda. Selain berukuran besar dan nampak sangat rindang, di bagian ranting – ranting pohonnya, banyak digantungkan kertas – kertas merah yang katanya merupakan doa dan harapan dari para umat.

Pohon tersebut adalah Pohon Bodhi yang cukup langka dan usianya sudah sangat tua. Pohon ini dipercaya sebagai tempat bersemedinya sang Buddha. Tepat di bawahnya terdapat patung Sidharta Gautama dan patung Buddha yang diletakkan pada sisi yang saling berlawanan.

Tidak terasa waktu sudah semakin sore. Niatan awal yang memang hanya sekedar ingin menjawab rasa penasaran untuk melihat – lihat bagian dalam Vihara Buddhagaya akhirnya kesampaian. Sayangnya, karena asik melihat – lihat rupa bangunan dan patung – patung di area Vihara Buddhagaya, saya jadi terlewat mencoba ritual Tjiam Shi yang terkenal biasa dilakukan di vihara ini. Sebuah ritual yang konon katanya dapat meramalkan nasib manusia. Ah, mungkin lain kali…

Vihara Buddhagaya Watu Gong

Jl. Perintis Kemerdekaan (Depan Markas Kodam IV Diponegoro)

Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

Leave a Reply