Sapundu : Patung Ukir Bernilai Sakral Umat Kaharingan

Kali ini saya sedikit beruntung bisa kembali ke Palangka Raya lebih cepat dari biasanya. Selain soal rindu yang akhirnya terbayar lebih cepat, kedatangan saya juga bertepatan dengan penyelenggaraan Upacara Tiwah massal di Balai Kaharingan Kota Palangka Raya. Upacara Tiwah yang digelar bekerjasama dengan Pemerintah Kota selama hampir satu bulan sampai dengan akhir Oktober 2016 ini ‘mengantarkan’ sebanyak 117 jenazah. Hal ini ditandai dengan banyaknya Sapundu yang tertancap di tempat upacara.

Pertama kali saya mengenal dan melihat Upacara Tiwah adalah pada saat saya berumur 10 tahun. Ketika itu saya diajak oleh Bapak untuk melihat Upacara Tiwah di sebuah desa kecil. Letaknya sekitar 4 jam perjalanan dari Palangka Raya. Sebuah kesempatan langka yang menjadi pengalaman luar biasa bagi saya. Jarang – jarang loh bisa melihat langsung Upacara Tiwah yang sakral bagi umat Kaharingan ini. Bagi orang – orang yang tinggal di luar Pulau Kalimantan mungkin akan merasa asing mendengar istilah ‘kepercayaan Kaharingan’ dan ‘Upacara Tiwah’.

Tiwah Massal di Balai Kaharingan Palangka Raya
Tiwah Massal di Balai Kaharingan Palangka Raya

Sejak berpuluh – puluh tahun lalu, suku Dayak tinggal berdampingan dengan alam sembari menyelaraskan proses hidup dengan sang pencipta. Adalah kepercayaan Kaharingan yang menjadi salah satu bukti nyata pola hubungan vertikal suku Dayak dengan Tuhannya. Kaharingan yang merupakan kepercayaan asli suku Dayak di beberapa pedalaman Kalimantan ini sudah dianut jauh sebelum agama – agama lain masuk ke Pulau Kalimantan.

Upacara Tiwah sendiri adalah salah satu ritual keagamaan umat Kaharingan. Tiwah merupakan ritual untuk mengantarkan arwah leluhur yang telah meninggal ke lewu tatau (surga). Sebuah prosesi kematian tingkat akhir yang dilakukan dengan cara membersihkan dan memindahkan sisa jasad berupa tulang belulang dari liang kubur ke tempat yang baru.

Tempat tersebut berupa rumah – rumahan kecil yang dinamakan ‘Sandung’. Dalam kepercayaan umat Kaharingan, orang yang meninggal belum akan sampai ke surga dan bertemu dengan Ranying Hatalla Langit (Tuhan Umat Kaharingan) jika belum ‘diantarkan’ melalui Upacara Tiwah ini.

Tempat Pelaksanaan Upcara Tiwah
Tempat Pelaksanaan Upacara Tiwah

Dari sekian banyak media yang digunakan dalam Upacara Tiwah, ada salah satu yang cukup menarik bagi saya, yaitu Sapundu. Sapundu dianggap sebagai bentuk penghormatan dan bukti kasih kepada para leluhur dan dipercaya memiliki kekuatan mistis.

Sapundu merupakan media yang harus selalu ada pada setiap pelaksanaan Upacara Tiwah. Patung ini biasanya dipasang di tempat pelaksanaan Upacara Tiwah dengan sebelumnya melakukan sebuah ritual khusus terlebih dahulu untuk pemasangannya. Mungkin karena cukup banyak jenazah leluhur yang akan ditiwahkan, maka jumlah Sapundu pada Upacara Tiwah di Balai Kaharingan Palangka Raya ini pun bisa dibilang lebih banyak dari yang pernah saya lihat sebelumnya.

Sapundu Pada Pelaksanaan Tiwah Massal di Palangka Raya 2016
Sapundu Pada Pelaksanaan Tiwah Massal di Palangka Raya 2016

Bentuk Sapundu adalah berupa sebuah tiang berukir yang pada bagian atasnya dibentuk menyerupai manusia. Biasanya, patung yang ada pada bagian atas Sapundu dibuat menuruti jenis kelamin dari leluhur yang akan ditiwahkan. Apabila jenis kelamin perempuan, maka patung akan dibuat dengan motif patung perempuan. Begitu juga sebaliknya. Secara adat, tidak ada aturan tertentu mengenai bagaimana ukir – ukiran pada tiang Sapundu harus dibuat, tergantung pada kreativitas si pembuat saja. Itulah sebabnya jika diperhatikan, antara Sapundu yang satu dengan Sapundu yang lain tidak selalu memiliki rupa yang sama. Namun pada umumnya ukiran yang ada pada Sapundu menyiratkan makna tentang kehidupan manusia.

Beragam Bentuk dan Ukiran Sapundu
Beragam Bentuk dan Ukiran Sapundu

Sapundu biasanya terbuat dari kayu jati atau masyarakat Dayak biasa mengenal dengan nama Tabalien. Kayu jati merupakan jenis kayu yang sangat kuat. Mengingat fungsinya, Sapundu harus dibuat dari bahan yang sangat kuat agar tahan lama. Pada prosesi Upacara Tiwah, Sapundu digunakan untuk mengikat hewan kurban seperti kerbau atau sapi. Hewan kurban ini merupakan media pengantar untuk mengiringi perjalanan arwah leluhur. Kerbau atau sapi yang sudah diikat di Sapundu dikorbankan dengan cara ditombak secara bergantian oleh sanak keluarga dari arwah leluhur yang akan diantarkan. Walaupun nantinya sudah banyak darah segar yang mengucur, kerbau atau sapi tersebut akan terus ditombak hingga ambruk dan mati. Setelah benar – benar mati, barulah hewan kurban dapat disembelih.

Sapundu Tempat Mengikat Kurban (Sumber Di Sini)
Sapundu Tempat Mengikat Kurban (Sumber Di Sini)

Bicara soal penombakan hewan kurban, pada prosesi ini sebenarnya saya agak ngeri. Bayangkan saja, saya harus melihat kerbau dalam posisi terikat lehernya, meronta kesakitan, terkadang berlari memutari Sapundu dengan sisa – sisa tenaga yang ada. Saya pikir, mungkin kerbau tersebut berharap bisa lepas dari ikatannya lalu segera kabur. Prosesi yang mungkin dianggap ‘sadis’ bagi sebagian orang ini sebenarnya justru dipercaya akan dapat menyucikan arwah leluhur melalui darah yang mengucur keluar dari hewan kurban yang ditombak tersebut.

Sapundu Bernilai Sakral Bagi Umat Kaharingan
Sapundu Bernilai Sakral Bagi Umat Kaharingan

Saat tulang belulang sudah masuk ke dalam Sandung dan Upacara Tiwah selesai, Sapundu akan dicabut dari tempat pelaksanaan Upacara Tiwah dan dipindahkan ke dekat Sandung masing – masing leluhur yang sudah ditiwahkan.

Biasanya Sandung berada tidak jauh dari rumah sanak keluarga para leluhur tersebut. Apabila berkunjung ke desa – desa yang ada di Kalimantan Tengah, kita bisa menemukan cukup banyak Sandung lengkap dengan Sapundu yang berdiri tegak di sekitarnya. Tidak sedikit di antaranya ada yang sudah berusia sampai puluhan tahun.

Bagi saya, Sapundu yang bernilai sakral dan sangat dihargai oleh umat Kaharingan ini menambah deretan panjang keragaman keunikan kepercayaan lokal yang senyatanya masih ada di tengah masyarakat. Sebuah keragaman yang semoga masih akan terus ‘hidup’ berdampingan dengan keragaman lainnya di negeri ini.

 

2 thoughts on “Sapundu : Patung Ukir Bernilai Sakral Umat Kaharingan”

Leave a Reply