Rindu Kali Ini Tentang Eksperimen

Rindu seringkali hadir dengan cara yang tidak terduga. Tentang apa saja, tanpa banyak tetek bengek, ia bisa tercipta  melalui peristiwa yang amat sangat sederhana. Sebut saja misalnya seperti saat ngobrol ngalor ngidul selepas makan malam bersama si Nyo.

Di antara beberapa topik obrolan, Nyo sempat sedikit bercerita tentang kekasihnya yang senang bereksperimen saat memasak. “Pokoknya aneh anehlah…” selorohnya dengan kening berkerut. Saya hanya tertawa geli. Perempuannya itu suka mencampurkan apapun yang dirasanya tepat untuk membuat masakannya terasa lebih sedap. Perihal nyatanya akan sedap pula dilidah orang lain, urusan belakangan. Saya lalu teringat pada ibu. Persis sekali tingkahnya begitu.     

Saya tidak bilang ibu tidak bisa memasak. Ibu saya bisa memasak. Kalau pakai bahasa kekinian (yang entah kekinian macam apa), masakan Ibu saya itu ‘nak nget’ (baca : enak banget). Hanya saja kalau hobi eksperimennya kambuh, itulah masalahnya, kawan. Lidah saya terbiasa dengan rasa masakan yang ‘pada umumnya’ – minimal versi saya. Bahkan untuk menyantap semangkok bakso atau mie ayam saja saya tidak pernah menambahkan saos, kecap, atau bumbu – bumbu lainnya.

Dibandingkan masakan ala resto berbintang, apalah ranking masakan hasil eksperimen ibu saya itu. Bisa dibilang macam saya versus Maudy Ayunda, kebanting. Atau macam jarak matahari ke planet Neptunus, kira – kira 4500 juta kilometer, jauh sekali.

Boleh saja majalah Aura atau majalah Nova favorit ibu yang penuh dengan resep – resep masakan itu dibacanya demi menciptakan menu santapan baru di meja makan makan kami, tapi apa? Seselesainya hanya tergeletak begitu saja di ruang baca. Ibu akhirnya lebih memilih ‘jalannya’ sendiri. Saat berada di dapur, ia menggunakan kebebasan yang adalah bagian dari eksistensinya sebagai manusia.

Perkara ada perangkap teori atau teknik penggunaan bumbu dapur yang berlaku di dunia para chef, tidak dipusingkannya. Yang penting tidak ada nyawa melayang gara – gara masakannya. Untungnya, aturan umum bahwa kebebasan harus menjadi satu paket dengan tanggungjawab, selalu dipatuhi oleh ibu. Minimal atas perilaku bebasnya dalam bereksperimen, ibu cukup bertanggungjawab untuk menghabiskan makanan yang sudah diolahnya jika akhirnya saya ‘angkat tangan’, hehee…

Belakangan, dibandingkan masakan lezatnya, justru masakan hasil eksperimen ibu itulah yang lebih saya rindukan di tanah perantauan ini. Saya pikir – pikir, hobi bereksperimen ibu saya itu ada saja unsur mendidiknya. Saat saya mencicipi masakan hasil eksperimen ibu, di situlah rasa toleransi saya dituntut hadir dalam kadar yang lebih tinggi.

Bukankah di negara yang sedang terserang virus galau ini, toleransi sering jadi ‘barang mahal’ bahkan dalam kadar yang sangat rendah sekalipun? Saya lalu sebentar melirik ke arah sumber asap rokok dari meja sebelah yang tanpa permisi sedang masuk menggelitik ke sela – sela rongga hidung. Mungkin ini salah satu contohnya.

Pula gara – gara ibu suka bereksperimen dengan masakannya, mendadak saya jadi meyakini bahwa kari ayam ternyata bisa saja hadir dalam rasa yang sedikit berbeda dari kebanyakan. Atau pernah pula saya bergumam, Tuhan, jadi sebenarnya rasa sop kaki sapi itu bisa jadi seperti inikah? Lah, ini persoalan rasa dan selera. Kadang kedunya cuma butuh dihargai toh? Tidak melulu harus diperdebatkan.   

Ah, saya jadi rindu melihat ibu yang sedang bersemangat mengaduk – aduk isi panci, yang saya tahu pikirannya pun sembari meraba – raba bumbu apalagi yang mau ditambahkan ke masakannya. Lidah saya rasanya mendadak siap icip – icip hasilnya. Si Nyo kampret sekali membuka ingatan saya soal eksperimen memasak. Betul rindu bisa hadir dalam cara yang sangat sederhana seperti ini, tapi tidak selalu dengan perkara membereskannya. Untuk menuntaskan rindu yang satu ini, saya harus pulang ke pulau seberang. Butuh selembar tiket pesawat. Mahal, Nyo!

2 thoughts on “Rindu Kali Ini Tentang Eksperimen”

Leave a Reply