Ada Harta Karun di Dalam Bus Kota

Beberapa waktu lalu, matahari sedang tidak bergairah menembus awan mendung di atas Kota Semarang. Rasanya bumi jadi adem – adem menggemaskan. Bikin hidung jadi makin meler saja. Waktu itu, saya berada di dalam sebuah bus kota berplat merah yang sedang melaju ke pusat kota. Tujuan saya ke Jalan Pemuda. Sebuah jalan yang masuk dalam Kawasan Segitiga Emas di Semarang.

Saya duduk manis di deretan bangku agak depan dan tepat di pinggir jendela. Posisi favorit untuk bisa menikmati ragam polah manusia lain yang ada di dalam maupun di luar bus. Saat itu sedang tidak banyak penumpang. Di belakang, hanya ada seorang bapak yang sedang sibuk merapikan beberapa lembar uang dua ribuan yang ada di saku bajunya. Persis di depan saya, seorang perempuan muda berseragam sebuah restoran cepat saji sedang lincah memainkan jari – jarinya di atas layar ponsel.

Hanya suara supir dan kernet yang meramaikan suasana di dalam bus. Si supir sibuk menggerutu karena penumpang sedang sepi, sesekali nada bicaranya semakin naik lantaran ada pengendara sepeda motor yang melintas ngawur di depannya. Mungkin benar kata seorang kawan yang pernah lantang bicara soal metode belajar kesabaran. “Jalan raya bukan sekedar tanah yang kau lintasi karena kau punya hak dari pajak yang kau bayar, belajar jugalah di situ soal kesabaran.” Begitu katanya. Jalanan punya cara sendiri untuk menggerus atau malah menebalkan level kesabaranmu. Coba saja.

Si kernet nampak lebih kalem. Sembari menghibur kawannya itu, matanya tetap fokus untuk menemukan calon penumpang lain. Sementara saya? Saya cuma duduk diam mengamati orang – orang di dalam bus, lalu melempar pandangan ke luar jendela. Ramai betul kendaraan di luar sana. Semakin ke kota, semakin padat.

Tiba – tiba terlintas di pikiran saya begini. Bagi sebagian orang, bisa jadi naik bus kota cuma sekedar rutinitas sepele. Bergerak ke tujuannya masing – masing sambil berlomba untuk mendapatkan tempat yang nyaman hingga sampai di tempat tujuan. Kalau sial, jadi perkara berdesak – desakan bak sarden kalengan. Bagi sebagian lainnya, mungkin tidak terpikir untuk naik bus kota. Toh punya kendaraan sendiri. Makanya jalanan jadi padat begitu.

Saya pun punya kendaraan sendiri, tapi saya juga suka bepergian naik bus kota. Apa sebab? Bagi saya, belum ada senjata yang lebih ampuh untuk belajar soal tepa selira dan refleksi diri selain dengan menggauli sepersekian pengalaman hidup orang lain. Bus kota bisa menjadi salah satu tempat yang tepat untuk melakukannya.

Selain itu, naik bus kota bisa menjadi aksi mendukung gerakan menyelamatkan jalanan dari kemacetan. Pula bonusnya, naik bus kota akan menjadi salah satu moment untuk ‘sok akrab’ dengan ruang publik. Ya, ruang publik yang kadang alpa diubah sendiri oleh para manusianya menjadi ruang privat berjamaah.

Dalam hal jalan – jalan ke daerah yang baru, kapan lagi saya bisa berada dalam ‘ruang’ yang sama dengan warga lokal. Sekedar jadi penonton, lalu merasakan denyut budaya yang berbeda. Di bus kota, obrolan santai warga hingga soal mengumpat, sangat bisa dijumpai. Kadang, ada pula kesempatan untuk berinteraksi. Walaupun akhirnya bahasa lokal hanya bisa berbalas Bahasa Indonesia, bahkan sesekali bahasa tubuh. Kalau sudah begitu, saya lalu bisa merasakan bagaimana sambutan dan respon mereka terhadap orang baru. Macam – macam ternyata. Kadang suka sial jadi target tipu – tipu, haha…

Naik bus kota bisa menemukan harta karun yang model begitu, kawan. Tidak percaya? Lagi – lagi, coba saja.

2 thoughts on “Ada Harta Karun di Dalam Bus Kota”

Leave a Reply