Tentang Menciptakan Kebahagiaan

Di saat kita ingin, kebahagiaan tidak selalu hadir dengan sendirinya. Ia butuh dicari, atau malah diciptakan oleh tiap orang dengan caranya masing – masing.

– Aas-

Beberapa jam menjelang pergantian tahun kemarin, saya sempat sebentar terlelap sebelum akhirnya terbangun oleh  suara petasan dan kembang api yang saling bersahut – sahutan di luar. Belum lagi teriakan kegirangan anak – anak kecil di sekitar rumah tidak kalah nyaringnya.

Dalam keadaan yang sangat ramai begitu, saya lebih memilih bangun ketimbang melanjutkan tidur. Secangkir teh panas kemudian menjadi teman yang pas untuk duduk manis di teras depan rumah sambil menyaksikan kembang api.

Saya bersandar ke salah satu pilar teras. Saya duduk diam memperhatikan langit yang sedang nampak meriah, lalu sesekali melihat ke layar ponsel. Ada beberapa pesan masuk. Semuanya berisi ucapan selamat tahun baru disertai harapan dan doa untuk peruntungan serta pencapaian yang lebih baik lagi. Mari diaminkan.

Membaca pesan – pesan tersebut lalu saya berpikir sebentar soal ‘bahagia’. Sudah seberapa banyak saya bahagia di tahun 2016? Kira – kira apakah saya akan lebih bahagia lagi di tahun 2017. Maklum, saya tergolong manusia yang kadang suka lupa untuk bahagia.

Di awal tahun 2017, ada banyak harapan – harapan baru yang terucap. Semuanya berujung pada satu tujuan, yaitu kebahagiaan. Siapa yang tidak bahagia kalau harapannya bisa terwujud? Setiap orang ingin bahagia. Setiap orang butuh bahagia. Ini yang penting. Kebahagiaan memiliki pengaruh yang besar pada kesehatan dan pikiran yang positif.

Masalahnya, bukankah di saat kita ingin, bahagia itu tidak selalu ada datang dengan sendirinya? Kalau sudah begitu, maka kemudian tiap orang harus mencarinya.

Saya lalu ingat bagaimana di suatu sore pada Desember kemarin, saya sempat berusaha mencari kebahagiaan dengan nongkrong di sebuah café. Untuk menyelesaikan tugas mulia sebagai mahasiswa tingkat akhir, selama berhari – hari saya harus ‘mengencani’ berlembar – lembar ‘cerita’ dari Bertens, Frans Magniz, dan Sidharta perihal etika serta makna kerja.

Rasanya kewarasan dan tingkat kebahagiaan saya sudah terseret beberapa level mendekati garis batas terbawah. Saya butuh tempat lain untuk ‘berkencan’. Bukan melulu di kamar tidur berukuran 3×3 meter dengan kasur empuk yang menggoda seperti senyumnya Nicholas Saputra.

Saya lalu memilih OV Café yang sangat nyaman baik dari segi tempat maupun harga. Biasanya, menikmati secangkir coklat panas di smoking area OV Café akan menjadi hal yang menyenangkan sembari menunggu senja. Café ini berada di pinggir jalan besar kawasan padat mahasiswa.

Jelas bising dari luar akan sangat kentara jika memilih duduk di smoking area yang posisinya berada di bagian depan café, pula dengan jendela – jendela yang selalu dibuka lebar oleh si empunya. Ah, tapi justru saya suka berlama – lama berada di situ.

Bukan karena saya perokok, tapi jendela – jendela yang terbuka lebar memberi kesempatan bagi jomblo awet seperti saya ini untuk bisa sedikit merasakan kebahagiaan. Tidak ada pacar yang membelai, maka dibelai angin sepoi – sepoi saja saya sudah bahagia. Pula jika si matahari yang sedang perlahan kembali ke peraduan mampir malu – malu di jendela.

Hangatnya membantu saya untuk tidak lupa rasanya berada di pelukan pacar. Lalu, sekedar mengucapkan selamat pagi kepada si malam yang datang belakangan menjadi penutup yang syahdu dari kebahagiaan melepas senja. Sederhana toh? Kalau sudah bahagia, maka urusan ‘berkencan’ dengan tugas mulia dari kampus akan terasa lebih mudah.

Sayangnya kebahagiaan yang biasanya itu sedang tidak ada walaupun saya sudah duduk manis di spot favorit. Padahal masih pukul setengah lima sore, tapi langit sudah gelap. Rupanya sedang lekat dengan awan mendung. Alih – alih merasakan angin sepoi dan hangat matahari, rambut saya malah sukses diacak – acak oleh angin yang berhembus kencang lewat jendela. Saya jadi macam habis berantem jambak – jambakan memperebutkan pria tampan, ditambah lagi dinginnya angin merasuk sampai ke hati. Lengkap sudah.

Eh sebentar, di saat kebahagiaan yang dicari tidak ditemukan, bukankah masih ada cara lain untuk menjadi bahagia? Mungkin dengan menciptakannya. Misalnya walau hanya dengan memilih menu makanan yang tepat untuk memuaskan hasrat ngemil. Ketika itu akhirnya saya memutuskan memesan makanan ringan untuk mengganjal perut yang sudah mulai rewel.

“Mas, itu apa?” Saya bertanya sembari menunjuk dua camilan yang masih tersisa di rak kaca kecil dekat kasir.

Waiter kriwil, berkumis, dan berkacamata ala Harry Potter di depan saya menjawab dengan cepat. Secepat saya akan menjawab “Yes, I Will…” kalau Oppa Jin Goo bertanya kepada saya “Will You Marry Me?”.

“Yang di depan itu macaronni schotel, lalu yang ini lasagna. Ada 1 lagi, mac and cheese, tapi masih di dapur. Mau yang mana, mbak?”

Berhubung si waiter bukan Oppa Jin Goo walaupun dalam ukuran KW 2 sekalipun, saya sempat berpikir dulu sebentar sebelum akhirnya menjawab “lasagna aja deh mas”.

“Pilihan yang tepat, mbak. Memang lasagna yang paling enak.” Si waiter sempat – sempatnya memuji pilihan ngaco saya. Saya hanya membatin ‘masa sih’  sembari membayar pesanan. Tapi betul saja, ternyata sepotong lasagna yang saya pesan memang enak. Lalu saya bahagia.

Lah, ternyata tidak sulit toh untuk menciptakan kebahagiaan? Walaupun caranya sangat sederhana. Kadang, lupa untuk bersyukur dan menetapkan standar kebahagiaan yang terlalu tinggi seringkali membuat saya luput melihat dan merasakan bahwa ternyata kebahagiaan bisa hadir atau bisa diciptakan secara sederhana. Tidak melulu rumit seperti kehendak dan cara pikir manusia.

Saya lalu ingat pula pada salah satu artikel di laman Sudut Pandang majalah National Geographic Traveler. Artikel tersebut memuat tulisan dari Costas Christ mengenai pemikiran Dalai Lama tentang Kebahagiaan Hakiki. Menurut Dalai Lama, bepergian dapat mengubah dunia menjadi tempat yang lebih bahagia karena kita didorong untuk mempercayai satu sama lain. Mulailah perjalanan, bersualah dengan beragam budaya, dan tetaplah berwelas asih. Begitu pesan Dalai Lama selanjutnya perihal Kebahagiaan Hakiki.

Saya menegak habis teh yang tersisa di dalam cangkir. Terlalu setia ia menjadi teman berpikir sampai – sampai sudah menjadi dingin. Sudah hampir jam 1 pagi juga. Sudah waktunya kembali tidur. Sembari melangkah masuk dan menutup pintu rumah, saya berpikir, mungkin begitu cara lain untuk menciptakan bahagia selain dengan sepotong lasagna. Seperti kata Dalai Lama tadi. Pergilah, mulailah kembali perjalananmu, kawan. Segera.

4 thoughts on “Tentang Menciptakan Kebahagiaan”

  1. Ketika kebanyakan orang berusaha keras mencari kebahagiaan, satu hal yang kadang tidak disadari, kebahagiaan ada di depan mata.

    Terima kasih sudah berbagi tentang arti bahagia, kak.

  2. lebih sih menciptakan kebahagiaan sendiri.. duduk di angringan dengan di temani segelas kopi hitam pas dan sebatang rokok *j*r*m cukup membuat hati ini sedikit lebih bahagia. ya karena bahagia itu sederhana kak aas

    1. lebih tepatnya sih menciptakan kebahagiaan sendiri.. duduk di angringan dengan di temani segelas kopi hitam pas dan sebatang rokok *j*r*m cukup membuat hati ini sedikit lebih bahagia. ya karena bahagia itu sederhana kak aas

Leave a Reply