Yang Tertinggal Dari 3 Perjalanan

Perjalanan, apapun bentuk dan tujuannya, selalu punya kisah dan cara untuk mengajarkan hal – hal baru. Perjalanan akhirnya bukan hanya sekedar soal menikmati eksotisme alam. Pula bukan hanya berhenti pada soal sudah seberapa jauh kaki telah menjejak tanah di negeri orang.

Tiga pengalaman sederhana dari perjalanan di tiga kota ini cukup berkesan bagi saya. Ada hal – hal baru yang kemudian mengubah pola pikir, gengsi, bahkan soal bagaimana agar melakukan perjalanan dengan cara yang berbeda.

***

  • Kampung Kota di Jakarta dan Niat Blusukan Melihat Rupa Kota Yang Sebenarnya

“Untuk pertama kalinya saya melihat kampung kota dari ketinggian. Tepatnya dari lantai teratas sebuah hotel. Untuk pertama kalinya itu pula saya merasa bahwa gang – gang kecil, perkampungan warga, atau tempat – tempat lain yang jauh dari gemerlap kota justru memiliki daya magnet yang jauh lebih besar. Wajah sebuah kota menjadi lebih nyata saat menelusuri tiap jengkalnya.”

Dulu ibu saya suka sekali mengajak anak – anaknya liburan ke Jakarta. Jika tidak bersamaan dengan tugas kantor, ibu biasanya lebih memilih menginap di hotel langganannya di daerah Kwitang. Pernah satu kali karena tipe kamar yang biasa kami tempati full, akhirnya kami mendapat kamar di lantai paling atas.

Kamar di atas ternyata nyaman sekali karena ada area terbuka untuk bersantai. Dari area tersebut, saya bisa melihat sepersekian wajah Jakarta. Termasuk kampung kota – yang entah apa namanya – yang berada persis di belakang hotel. Kata ‘kumuh’ dan ‘padat’ seketika muncul di benak saya.

kampung kota
Perjalanan 1. Salah Satu Yang Bisa Dilihat di Kampung Kota. Sumber Foto : Di Sini

Besar kemungkinan, di sana, ruang pada satu petak rumah disulap multifungsi. Secara fisik, rumah di perkampungan kota itu tidak ada apa – apanya jika beradu rupa dengan seperempat bagian hotel tempat saya menginap. Miris sekali. Lalu saya kesambet.

Sejak itu, di setiap perjalanan ke kota yang baru, saya selalu mengusahakan untuk blusukan ke titik – titik tertentu. Dari situ saya bisa melihat lebih dekat rupa si kota. Selalu ada pembelajaran tentang hidup warganya dari masa ke masa yang seringkali luput dilihat oleh banyak orang. Rasanya perjalanan jadi jauh lebih menarik setelahnya.

Ah, atau yang sedikit lebih ringan, dengan blusukan, saya lalu bisa menemukan warung kopi sederhana berusia tua di gang – gang kecil sebuah kota. Kisahnya apik. Tentang upaya bertahan eksis di antara gempuran lahirnya sederet coffeeshop bergengsi.

  • Kembang Gula Mas Haryo dan Nikmatnya Berbincang dengan Warga Lokal

“Dalam perjalanan, rupanya berbincang dengan warga lokal menjadi pengalaman yang menyenangkan. Kadang, ada harta karun yang bisa ditemukan. Mungkin saat sedang beristirahat dalam perjalanan, sensasi bersua kata dengan warga lokal akan terasa lebih greget ketimbang jari hanya beradu lincah di layar gadget.”

Kalau sudah pernah berkunjung ke kawasan Malioboro, minimal pasti juga sudah pernah melewati Museum Benteng Vredeburg yang berada di persimpangan titik nol Jogja. Saya pertama kali bertemu dengan Mas Haryo di sana.

Mas Haryo bukan gebetan, pacar, apalagi mantan terindah saya. Mas Haryo yang asli Jogja adalah seorang penjual kembang gula keliling. Bersama pedagang lainnya, ia sering nekat menggelar dagangannya di depan Benteng Vredeburg yang sebenarnya merupakan kawasan bebas pedagang kaki lima. Katanya, pembeli lebih banyak di area situ ketimbang di alun – alun.

Sore itu, Mas Haryo kebetulan sedang nekat seperti biasanya. Saya pun juga sedang entahlah apalah sehingga memilih menghabiskan sore sambil melihat ragam polah orang – orang di keramaian. Melalui sebungkus kembang gula berwarna merah yang saya beli, obrolan ngalor ngidul saya bersama Mas Haryo dimulai.

KEMBANG-GULA
Perjalanan 2. Kembang Gula Punya Cerita. Sumber Foto : di sini

Beberapa yang masih saya ingat, dari Mas Haryo, saya jadi banyak tahu bagaimana suka dukanya berjualan kembang gula. Terlebih saat harus berhadapan dengan razia SatPol PP. Begitu pula dengan usaha sampingannya saat sedang tidak berjualan kembang gula.

Masih ada juga cerita tentang beberapa pertunjukan wayang yang pernah ia saksikan, lengkap dengan seluk beluk perwayangan. Kisah lain soal rute angkutan umum di Jogja pun tidak luput diajarkannya pada saya jika ingin berjalan – jalan lebih jauh di Jogja. Ia hapal sekali. Maklum, alat transportasi yang dimilikinya hanya sepeda ontel. Kalau perlu pergi cukup jauh, mau tidak mau harus naik angkutan umum.

Yang cukup menyentuh, sebelum pulang, pria paruh baya itu memberikan gratis 2 bungkus kembang gula yang tersisa dari dagangannya. Saya menolak. Ia memaksa. Katanya sebagai tanda pertemanan. Saya pun kalah. Jadilah dua bungkus kembang gula berwarna merah dan putih dalam plastik bergambar Shaun the Sheep melambai – lambai mesra tertiup angin di sepanjang perjalanan pulang.

Selain sore itu, saya masih pernah beberapa kali bertemu lagi dengan Mas Haryo saat berkunjung ke titik nol Jogja. Dua tiga kali di antaranya kami habiskan mengobrol sambil ngopi di warung yang berada di area Pasar Beringharjo. Sebuah warung kopi yang malah belum pernah saya tahu sebelumnya.

  • Eyang Pandu dan Pandu Pustaka Yang Menggugah

“Bukankah lebih nyaman menghabiskan waktu untuk duduk membaca saja di ruang baca pribadi sembari menyeruput secangkir teh panas? Cukuplah membagi kegemaran membaca dan koleksi buku hanya pada anak dan cucu terdekat saja. Rupanya, Eyang Pandu adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak berpikiran begitu.”

Saat ke Pekalongan pada 2015 lalu, singgah di kediaman Eyang Pandu sama sekali tidak ada dalam list perjalanan saya. Eyang Pandu itu siapa, saya saja tidak tahu. Teman saya yang kemudian mengajak saya ke sana. Dari kunjungan itu, saya lalu mengenal Eyang Pandu dan semangatnya untuk terus meningkatkan wawasan intelektual masyarakat Pekalongan melalui budaya membaca.

Menuju ke Kelurahan Poncol – Pekalongan Timur, saya diajak untuk mengunjungi Pandu Pustaka. Pandu Pustaka adalah perpustakaan masyarakat yang didirikan oleh Eyang Pandu. Alasan Eyang Pandu mendirikan Pandu Pustaka sederhana saja, ia hanya ingin agar masyarakat Pekalongan gemar membaca. Membaca adalah cara pintar untuk menjadi pintar.

Ada banyak koleksi buku di Pandu Pustaka. Mulai dari bacaan berat hingga bacaan untuk anak – anak. Kebanyakan adalah koleksi pribadi Eyang Pandu, sisanya belakangan adalah hibah dari para donatur. Sistem pinjam di Perpustakaan Pandu hanya menggunakan metode kejujuran.

Pilih buku yang ingin dibaca, tulis sendiri di buku peminjaman, dan kembalikan tepat waktu setelah selesai membaca. Tidak sekedar duduk menunggu ada yang datang ke perpustakaannya, Eyang Pandu berani ‘jemput bola’. Ia sering berkeliling untuk meminjamkan beberapa bukunya kepada orang – orang.

Perjalanan 3. Banyak Cerita Yang Dibagikan Oleh Eyang Pandu.
Perjalanan 3. Banyak Cerita Yang Dibagikan Oleh Eyang Pandu.

Saat kami datang, Eyang Pandu yang baru pulang dari berkeliling, dengan ramahnya menemani aktivitas kami di dalam perpustakaannya. Ia dengan senang hati berbagi cerita tentang buku – buku yang direkomendasikannya, tentang koleksi uang kunonya, bahkan tentang sejarah Kota Pekalongan. Ia punya banyak koleksi foto – foto Pekalongan tempo dulu.

Pandu Pustaka bagi saya bukan hanya sekedar ruang buku dan ruang baca bagi masyarakat Pekalongan. Lebih dari itu, Pandu Pustaka adalah lambang semangat dan kepedulian. Di usianya yang tidak lagi muda, Eyang Pandu masih peduli untuk menjaga nyala budaya membaca tetap hidup di masyarakat. Pula soal kejujuran.

***

Ketiganya adalah pengalaman yang sederhana saja. Tapi ternyata butuh perjalanan dari Jakarta, Jogja, hingga Pekalongan untuk ngeh lebih jauh soal hidup.

Berkelanalah jauh-jauh, lihat dunia,
Pelajari hal-hal baru, begitulah kata para bijak.
Namun kerap yang kita temui dalam perjalanan adalah
Sesuatu yang tak membutuhkan penjelajahan ke negeri jauh.
Seandainya saja kita mau melongok ke pojok-pojok terdekat dengan sepenuh hati,
Ke pekarangan bahkan kepada tembok-tembok sekeliling yang tak lagi tampak
Akan kita temukan kerinduan akan misteri agung sebagaimana yang akan kita temukan pada ujung-ujung dunia terjauh.
(Wall with painting, Prague 2005) – Desi Anwar

Berangkat dari tulisan singkat Desi Anwar di atas, memang manusia tidak selalu seketika peka. Sesekali butuh dibuat melangkah lebih jauh dulu untuk kemudian melek. Saya, kadang – kadang, adalah satu di antara kumpulan manusia yang seperti itu. Belakangan saja baru sadar bahwa ternyata perjalanan pun butuh sungguh diresapi maknanya.

Salam.

— — — — — — — — — — — — — — —

[Tulisan ini dibuat untuk #nhclnulis bulan Februari 2017. Tema bulan Februari dari @ngobrolinjejak adalah “pengalaman sederhana yang berkesan dari perjalanan”.]

[#nhclnulis adalah proyek iseng sekelompok ‘zat kimia’ untuk ngomongin hal – hal yang serba #3 dari tema yang diangkat. Setiap bulan, berdasarkan tema yang sudah ditentukan di minggu 1, masing – masing akan membuat 1 tulisan, lalu diposting di blog atau instagram pada minggu ke-3. Temanya ditentukan sendiri bergantian oleh para ‘zat kimia’.]

[Tulisan para zat kimia lainnya di #nhclnulis bulan Februari 2017 bisa diliat di blog @jejakjelata, @jemzamanda, @aTIKa, dan @echie]

 

 

3 thoughts on “Yang Tertinggal Dari 3 Perjalanan”

    1. Betul mas. Nggak nyesel dengan pengalaman dari perjalanan, akhirnya makin ke sini bisa dapat banyak pembelajaran utk jadi lebih baik.

      Makasih sudah mampir, Mas Nusantara 🙂

Leave a Reply