Pada Akhirnya Tiga Kutipan Ini Terbukti Kebenarannya

Di luar sedang hujan. Perut saya sedang berulah minta makan. Tidak kenyang rupanya siang tadi bersua dengan sepiring nasi ayam oseng. Kombinasi suasana yang tepat untuk saya kembali merindukan masakan ibu di rumah. Ibu saya bukan chef, bukan pula wanita yang pernah kursus memasak. Dibandingkan Chef Marinka yang aduhai itu, mungkin rasa masakan ibu saya biasa saja.

Lalu kenapa saya sering merindukan masakan ibu yang rasanya biasa saja itu? Kutipan dari Bunda Teresa ini menjadi alasannya, Not all of us can do great things, but we can do small things with great love. Kutipan yang sudah saya aminkan berkali – kali.

Mother Teresa Love Quotes
Mother Teresa Love Quotes. Gambar : Pinterest.

Pernah beberapa kali saya membiarkan ibu memasak sendiri di dapur dengan segala ide eksperimennya. Saya hanya diam mengamati. Gerak tubuhnya nyata sekali ia bersemangat. Pula matanya berbinar saat ia bercerita akan memasak apa untuk keluarga kecilnya.

Mungkin bagi sebagian orang, memasak adalah hal kecil dan memang (harus) biasa dilakukan para ibu di rumah. Faktanya, saya merasakan betul ibu saya melakukan hal kecil itu dengan penuh cinta.

Itulah bumbu rahasia ibu yang sukses membuat saya sering merindukan masakannya dari tanah perantauan ini. Dari perkara memasak yang kecil itu, saya akhirnya belajar bahwa ketika melakukan segala sesuatu dengan hati, hal – hal kecil sekalipun, efeknya pasti akan sangat terasa.

Mungkin sama seperti tingkah ibu yang lainnya lagi. Dulu, Ibu saya senang ‘menyogok’ anak – anaknya dengan beragam buku bacaan ringan untuk memantik minat baca. Untungnya efektif dan saya keranjingan membaca. Semakin berumur, saya merasakan betul manfaat dari banyak membaca.

Saya lalu teringat pada sebuah kutipan klasik, “Buku adalah jendela dunia.” Semenjak kecil, saya beruntung sudah dibawa untuk melihat dunia lebih jauh lewat buku. Saya percaya, ‘aktivitas melihat’ menjadi salah satu bagian penting dari proses memahami sesuatu. Termasuk melihat melalui buku. Buku memberikan jawaban untuk banyak hal atas setiap pertanyaan saya. Mulai dari hal penting sampai yang tidak penting sekalipun.

Belakangan, bagi saya, membaca juga seperti dipaksa untuk belajar melakukan ‘aktivitas mendengar yang baik’. Saya pernah membaca kutipan milik Kenneth A. Wells yang kurang lebih begini isinya, seorang pendengar yang baik mencoba memahami sepenuhnya apa yang dikatakan orang lain. Pada akhirnya mungkin saja ia tidak setuju, tetapi sebelum ia tidak setuju, ia ingin tahu dulu dengan tepat apa yang tidak disetujuinya.”

Bisa dilihat di banyak debat, atau malahan di obrolan kelas warung kopi sekalipun, tidak banyak manusia pendengar yang baik. Potong memotong omongan menjadi seperti hal yang biasa saja terjadi. Berakhir dengan drama menggebrak meja atau aksi membalik meja justru jadi keseruan setelahnya. Para wakil kita di gedongan sana toh sudah pernah memberikan contohnya.

Saya pun kadang suka begitu. Tidak sabaran menghadapi kalimat – kalimat yang tidak sejalan dengan pikiran saya. Lalu biasanya perbincangan justru berakhir dengan tidak menyenangkan. Prosentasenya bisa mencapai 80%. 20%nya lagi syukurlah masih tetap berakhir menyenangkan. Kami masih bisa mengakhiri pertemuan dengan tawa (baru setelahnya lanjut ngedumel sendiri saat lawan bicara pergi).  Rupanya saya masih perlu banyak belajar untuk menjadi pendengar yang baik.

Kalau saat membaca buku kita tidak setuju pada apa yang diutarakan oleh si penulis, kita bisa dengan mudahnya membalik ke halaman selanjutnya. Bisa pula langsung mencoba mencari kesimpulan di halaman terakhirnya tanpa perlu repot – repot memahami penjelasan di halaman – halaman pertengahan. Ya walaupun ‘aktivitas melihat’ dalam proses memahami tadi menjadi tidak sempurna, buku tidak akan protes kok. Lah kalau dalam perbincangan dengan kekasih? Bisa – bisa rencana makan malam romantismu berakhir gagal. Seringnya dipotong bicara tanpa sempat menjelaskan itu menyebalkan.

Semenyebalkan hujan yang sampai akhir tulisan (yang terlambat posting) ini ternyata belum juga berhenti.

01.04.2017 dari pojokan dekat jendela di kawasan balaikota

—————————————————————————————————–

Tulisan ini dibuat untuk #nhclnulis bulan Maret 2017. Tema bulan Februari dari #pejalansemenjana adalah “3 kutipan yang mewarnai kisah hidup”.

[#nhclnulis adalah proyek iseng sekelompok ‘zat kimia’ untuk ngomongin hal – hal yang serba #3 dari tema yang diangkat. Setiap bulan, berdasarkan tema yang sudah ditentukan di minggu 1, masing – masing akan membuat 1 tulisan, lalu diposting di blog atau instagram pada minggu ke-3. Temanya ditentukan sendiri bergantian oleh para ‘zat kimia’.]

[Tulisan para zat kimia lainnya di #nhclnulis bulan Maret 2017 bisa diliat di blog @jejakjelata, @jemzamanda, @aTIKa, dan @echienabila]

 

2 komentar pada “Pada Akhirnya Tiga Kutipan Ini Terbukti Kebenarannya”

Tinggalkan Balasan