Tiga Gang Paling Berkesan di Pecinan Semarang

Salah satu kawasan menarik yang sering kali menjadi tujuan wisata di Kota Semarang adalah Pecinan. Saya sempat beberapa kali berkunjung ke sana. Selain mengunjungi macam-macam klenteng yang memang banyak tersebar di kawasan ini, rupanya mbulusuk ke gang-gang kecil di kawasan Pecinan Semarang juga memberikan sensasi yang berbeda.

Inilah yang lalu membuat saya penasaran untuk masuk dari satu gang ke gang lain di Pecinan Semarang. Lumayan bisa melihat dari dekat sembari menangkap lebih banyak cerita yang hidup di dalamnya. Dari beberapa gang di Kawasan Pecinan Semarang, ada 3 (tiga) gang yang cukup berkesan bagi saya.

Gang Baru

Waktu terbaik mengunjungi Gang Baru adalah di pagi hari dengan berjalan kaki. Pada waktu tersebut, pengunjung bisa menemukan sebuah pasar tradisional yang cukup ramai. Apanya yang menarik? Bagi saya ya menarik. Seringkali, pasar tradisional juga adalah ruang belajar. Ada banyak cerita dan hal-hal unik yang tersimpan di dalamnya.

Suasana di Pasar Gang Baru Pecinan Semarang
Suasana di Pasar Gang Baru Pecinan Semarang

Saya sudah dua kali berkunjung ke Gang Baru. Riuh sebuah pasar tradisional menjadi suasana khas dari gang ini. Sibuknya aktivitas di dalam pasar nampak semakin manis di mata saya berkat aneka sayuran segar, buah-buahan, rempah, daging, hingga hasil laut yang penampakannya sungguh menggoda mata.

Kata seorang teman, budenya yang tinggal di area Semarang Timur sering rela jauh-jauh pergi berbelanja kemari.

“Sayurnya segar-segar. Udang dan cuminya juga besar-besar. Fresh banget. Lihat sendiri kan. Coba deh kapan-kapan belanja di sini.” Begitu katanya saat saya tanya apa menariknya belanja di pasar Gang Baru.

Hal menarik lain dari Pasar Gang Baru adalah soal para penjualnya. Rupanya pasar Gang Baru tidak hanya menjadi tempat usaha bagi para etnis Tionghoa yang bermukim di kawasan Pecinan Semarang saja.

Banyak juga penjual yang berasal dari luar kawasan Pecinan, baik itu dari etnis Tionghoa maupun non Tionghoa, yang ikut mencari nafkah dengan berjualan di pasar ini. Rata-rata mereka sudah berjualan belasan tahun lamanya.

Soal kuliner, pasar Gang Baru juga punya jajanan yang unik. Berada di kawasan Pecinan, beberapa kue tradisional Tionghoa memberi warna yang khas untuk pasar ini. Ada Kue Ku, Kue Moho, dan Kue Miku.

Saya tidak begitu familiar dengan ketiga kue tersebut. Akibatnya, saya jadi banyak tanya sebelum membeli. Untungnya, para penjual kue tradisional tersebut cukup ramah dan sabar menjawab pertanyaan saya. Sesekali terselip ‘kode promosi’ supaya saya semakin tertarik membeli 😀

Gang Cilik

Tidak jauh dari Gang Baru, ada sebuah gang kecil yang diberi nama Gang Cilik. Ya karena memang berukuran kecil, lalu diberilah namanya menjadi Gang Cilik. Ruasnya juga tidak terlalu panjang jika dibandingkan dengan gang lainnya di Pecinan.

Gang Cilik di Pecinan Semarang
Gang Cilik di Pecinan Semarang

 

Di Gang Cilik, saya menemukan sebuah rumah yang cukup menarik. Bukan karena bentuk bangunannya, tapi justru aktivitas usaha yang dilakukan oleh si empunya rumah di dalam huniannya ini. Adalah Bapak Ong Bing Hok yang meneruskan usaha pembuatan rumah kertas milik keluarganya. Ia merupakan generasi keempat.

Replika rumah berbahan kertas, dan ada pula bentuk-bentuk lainnya sesuai pesanan konsumen, merupakan bagian dari tradisi kepercayaan Tionghoa. Replika rumah dan benda-benda lainnya tersebut biasanya dibuat sebagai ‘bekal’ bagi kerabat yang telah meninggal.

Rumah Kertas
Rumah Kertas

Diharapkan ‘di tempat yang baru’, kerabatnya tersebut tidak akan kekurangan segala kebutuhannya. Replika yang telah dibuat tersebut nantinya akan dibakar dan dilarung ke laut pada hari ke 49 setelah meninggalnya si kerabat.

Perjalanan Bapak Ong Bing Hok tidak mudah dalam mempertahankan usaha turun temurun dari  keluarganya. Sempat susah payah saat krisis ekonomi di tahun 1998, ternyata ia tetap mampu menjaga keberlangsungan usaha pembuatan rumah kertasnya sampai saat ini.

Bentuk Lain Replika Kertas
Bentuk Lain Replika Kertas

Walaupun sudah tidak seramai dulu, tapi beliau bertekad agar usaha ini tetap terus berjalan. Bukan semata alasan ekonomi keluarga, tapi juga soal tradisi yang tidak boleh sampai hilang. Kelak usahanya ini akan diteruskan pula oleh salah seorang anaknya.

Gang Warung

Gang Warung merupakan urat nadi Kawasan Pecinan Semarang di masa lalu. Denyut perekonomian sangat terasa di area ini. Gang Warung menjadi perlintasan warga pribumi dari kampung-kampung di luar Pecinan, utamanya yang berasal dari sebelah timur Kranggan. Warga pribumi membawa hasil bumi dan menjualnya di Gang Warung. Sementara itu, warga Tionghoa sendiri pun berdagang macam-macam barang seperti kain, kaca, kertas, dll.

Nadi perekonomian di Gang Warung masih terasa sampai saat ini. Di Gang Warung masih terdapat banyak ruko yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, namun sekaligus pula menjadi toko tempat usaha dari si empunya. Kebanyakan adalah toko tekstil dan toko obat.

 

Waktu terbaik lainnya untuk mengunjungi Gang Warung adalah malam hari pada akhir pekan (jumat, sabtu, minggu). Pada waktu tersebut, di Gang Warung rutin digelar Waroeng Semawis. Waroeng Semawis menghadirkan banyak booth kuliner yang siap memuaskan lidah para pengunjungnya. Dari ujung ke ujung, saya puas menghirup aroma dan mencicipi ragam kuliner nan lezat.

Suasana malam di Pasar Semawis juga terasa khas dan makin semarak dengan lagu-lagu mandarin yang terdengar dari beberapa ruko. Terlihat para orang tua berkumpul di sana untuk bernyanyi bersama. Modalnya hanya koleksi CD karaoke lagu-lagu mandarin. Kira-kira begitulah suasana malam khas ala Gang Warung di akhir pekan.

Kalau ada waktu berkunjung ke Pecinan Semarang, monggo dicoba jalan-jalan ke gang-gang favorit saya tadi. Siapa tau akan berkesan juga buat kalian 🙂

2 komentar pada “Tiga Gang Paling Berkesan di Pecinan Semarang”

Tinggalkan Balasan