Sebuah Pengingat Selepas Kunjungan ke Kampung Pelangi Semarang

Salah satu tempat yang sekarang sering jadi tujuan wisata di Kota Semarang adalah Kampung Gunung Brintik yang berada di Kelurahan Randusari. Nama hitsnya adalah Kampung Pelangi Semarang. Menelusuri Kampung Pelangi Semarang ini butuh tenaga ekstra. Maklum, lokasinya berada di lahan dengan kontur yang berbukit.

Bicara soal Kampung Gunung Brintik, kampung ini dulunya hanya sebuah perkampungan biasa. Di depannya, berderet kios-kios bunga yang rupanya pun kurang tertata. Kesannya kumuh. Kurang nyaman dipandang. Namun, sejak Pemerintah Kota menaruh perhatian lebih pada kios-kios bunga tersebut dan Kampung Gunung Brintik, kawasan ini lalu jadi menarik.

Saya sempat berkunjung satu kali ke Kampung Pelangi Semarang saat sore hari. Selepas kunjungan itu, ada hal menarik yang saya dapatkan. Sebuah pengingat sederhana.

Salah Satu Akses Masuk ke Kampung Pelangi

Melihat Rupa Kampung Pelangi Semarang

Hal pertama yang saya lakukan saat berada di sana jelas mengamati wajah baru kampung ini. Kampung Gunung Brintik yang dulunya sama sekali tidak menarik itu sudah dirias sedemikian rupa. Benar warna-warni bak pelangi. Mulai dari atap, dinding, hingga jalanan di lorong-lorong gangnya.

Tidak ketinggalan beragam mural kreatif menghiasi banyak titik di Kampung Gunung Brintik. Beberapa di antaranya malahan ada di dinding teras rumah warga. Hiasan unik warna-warni seperti bendera kecil, payung, dan bola-bola kecil yang dipasang turut memeriahkan suasana di Kampung Pelangi Semarang. Instagrammable sekali. Tidak heran kalau akhirnya setiap hari kampung ini ramai dengan pengunjung.

Lorong Gang Kampung Pelangi Semarang

Membantu Perekenomian Warga

Untuk beberapa warga Kampung Brintik sendiri pun, disulapnya kampung mereka menjadi Kampung Pelangi Semarang turut memberikan sumber penghasilan. Misalnya saja dari usaha membuka warung kecil yang menjual camilan, snack, hingga makanan berat.

Warung Warga di Kampung Pelangi Semarang

Di sepanjang jalan perkampungan, saya memang menemukan ada banyak warung-warung kecil milik warga setempat. Malahan beberapa di antara mereka hanya mengandalkan teras rumahnya saja sebagai area berjualan. Bermodalkan satu meja kecil, lalu aneka camilan dan minuman botol ditata rapi di atasnya.

Keramahan Warga Vs Tingkah Menyebalkan Pengunjung

Ketika melewati lorong gang, saya sembari melihat-lihat aktivitas warganya. Rata-rata di sore seperti itu, mereka menghabiskan waktu di luar rumah. Entah sekedar duduk-duduk, bebersih, atau mengobrol dengan tetangga. Anak-anak pun ramai bermain di sekitaran kampung.

Yang menarik, ada seorang bapak, perkiraan saya usianya sekitar 60an, yang sedang duduk sendirian di teras rumahnya. Saat akan lewat, kebetulan si bapak sedang melihat ke arah saya. Saya pun tersenyum dan menyapa beliau lewat anggukan. Beliau balik memberikan senyum kepada saya sembari berkata “monggo… monggo, mbak (silakan…silakan, mbak)”. Ramah sekali.

Tapiiii… 

Belum hilang senyum si bapak, tiba-tiba saya dikagetkan oleh dua perempuan yang sedari tadi berjalan di belakang. Mereka mendahului saya dan masuk ke teras rumah si bapak tanpa permisi. Tanpa ba bi bu keduanya langsung ambil posisi. Yang satu bergaya di depan mural, yang satu jadi tukang foto. “Seng apik yo (yang bagus ya)” kata si mbak kepada temannya tanpa sama sekali menyapa si empunya rumah. Batin saya “rumah kakekmu, mbak?” Dengan perasaan sedikit kesal saya berlalu pergi meninggalkan keduanya.

Memang mural dan hiasan warna warni yang unik di pelataran rumah warga menjadi latar yang apik untuk berfoto. Sudah beberapa rumah yang saya lewati, ada saja pengunjung yang berfoto di depan rumah warga. Boleh sih berfoto, tapi jangan lalu melupakan soal sopan santun. Mengucapkan kata permisi bukan hal yang sulit untuk dilakukan.

Tenaga Ekstra Kalau Berkunjung ke Kampung Pelangi Semarang

Tingkah Menyebalkan Pengunjung Lainnya…

Sampai di pertengahan kampung di bagian agak atas, napas saya mulai ngos-ngosan. Saya berhenti sebentar di dekat tangga yang baru saya naiki. Saya bersandar ke tembok. Dari situ, telinga saya lalu mendengar sayup suara orang-orang menyanyikan lagu gereja. Ternyata, sedang ada ibadah keluarga di salah satu rumah warga. Ruang tamu hingga sedikit bagian terasnya terisi oleh tamu yang datang.Ternyata di kampung ini, aktivitas ibadah bisa berjalan dengan baik di rumah warga. Suasana khusyuk ibadah itu didukung dengan suasana tenang yang diciptakan oleh warga sekitarnya. Sayangnya, tidak oleh pengunjung 🙁

Tangga Pun Dicat Warna-Warni

Seorang remaja perempuan yang baru saja naik dari tangga berteriak lumayan kencang memanggil temannya yang masih tertinggal di bawah. Maksudnya supaya temannya cepat naik lewat situ. Ia juga tertawa lepas dengan suara yang tidak kalah nyaring. Saya bingung, di area perkampungan dengan lorong gang yang lebarnya tidak seberapa itu, apa tidak cukup bicara dengan volume suara yang biasa saja?

Mereka Juga Berhak Atas Ruangnya, Jangan Lupa Diri

Ketika datang ke tempat baru yang sedang hits, seringkali ada saja yang dengan bangganya merasa, “Kedatangan kita jadi bikin wilayah mereka makin dikenal loh. Yang tadinya nggak dilirik malah jadi ramai kan.” 

Pertanyaannya, apakah efek baik bagi warga hanya diukur dari soal peningkatan finansial saja? Dengan pikiran seperti itu, seringkali kita justru jadi lupa soal menghormati ruang hidup orang lain. Lupa pula soal empati.

Tingkah main nyelonong masuk ke teras rumah warga untuk berfoto, jejeritan, atau ketawa ketiwi dengan suara keras, adalah potret tentang betapa egoisnya kita sebagai pengunjung. Yang kita (mau) tahu hanya soal kesenangan diri sendiri. Warga terganggu atau tidak dengan tingkah kita, bodo amat

Jangan Lupa…

Kampung itu dan warganya sudah lebih dulu ada. Mereka hidup dengan segala kebiasaan dan suasana khasnya. Ada persoalan ‘ketenangan’ dan ‘kenyamanan’ hidup yang tidak melulu bisa ditukar dengan uang. Ketika lalu wajah kampung diubah, terutama untuk kemaslahatan kita yang kurang piknik ini, jangan lalu jadi lupa diri. Saat datang ke sebuah tempat, apalagi di kawasan pemukiman, pengunjung seharusnya bisa beradaptasi dengan lingkungan dan toleran pada warga setempat.

Kampung Gunung Brintik

Pikir saya, seperti di Kampung Pelangi Semarang, warganya saja sudah sangat bisa menghormati orang-orang yang datang berkunjung. Mereka menawarkan keramahan dan rasa nyaman kepada setiap yang berkunjung. Sementara kita? Semoga bisa berlaku sebaliknya juga.

***

Ah ya, bagi saya, ini adalah sebuah pengingat yang manis selepas jalan-jalan sore di Kampung Pelangi Semarang 🙂

 

7 thoughts on “Sebuah Pengingat Selepas Kunjungan ke Kampung Pelangi Semarang”

  1. Setuju Mba, perkampungan tetaplah perkampungan dengan segala aktivitas dan privasi kesehariannya. Mau berwarna seperti apapun, hakekat perkampungannya tetaplah alamiah..

  2. Kadang miris sih, namanya kampung ya disitu pasti ada warganya. Mereka (pengunjung) hanya terkesan tutup mata, dan hanya berpaku pada spot2 untuk berfoto. Dan lupa untuk bertegur sapa, padahal mereka sedang bertamu di kampung orang.

    Sudut pandang yang menarik mbak. Saya malah belum sempat kesini 😀

  3. Aku jadi ikut geregetan bacanya mbak. Aku juga nggak setuju dengan kelakukan pengunjung yang mementingkan segala cara demi mendapat foto bagus,, macam masuk area rumah orang tanpa ijin kaya yang mbak temui di Kampung Pelangi. Buat mereka piknik itu berarti foto bagus trus bisa dipamerin,, padahal piknik itu lebih dari sekedar foto-foto, kita bisa berinteraksi dengan orang baru semacam cuma senyum dikit ke warga lokal udah termasuk interaksi dan tambahan pengalaman, kalo menurut aku sih.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: