Patjar Merah Malang dan Akhir Pekan Yang Berkesan

Akhir pekan lalu (4/8/2019), saya main ke Malang. Agenda utamanya adalah mengunjungi Patjar Merah Malang, sebuah festival literasi kecil dan pasar buku keliling. Patjar Merah yang digelar 27 Juli-4 Agustus 2019 di Malang merupakan kali kedua setelah sebelumnya sukses tayang perdana di Yogyakarta.

Ketika jadwal lengkap acara Patjar Merah diumumkan, saya dan kawan dari @jejakdolan memutuskan untuk datang di hari terakhir saja. Sebabnya menyesuaikan dengan jadwal kantor dan kebetulan ada 2 sesi obrolan patjar yang kami incar karena temanya yang menarik. Psst, tentu kehadiran Kak W sebagai salah satu pembicara, adalah alasan penting lainnya. Kami berangkat berangkat Sabtu (3/8/2019) subuh menggunakan kereta api dari Semarang. Lumayan sehari sebelumnya kami bisa jalan-jalan dulu di Kota Malang.

Apa Itu Patjar Merah?

Tak kenal maka tak sayang. Saya ceritakan dulu apa itu Patjar Merah. Siapa tahu ada yang belum ngeh dengan acara keren yang satu ini. Nanti kalau sudah tahu, pastikan kalian datang ke Patjar Merah selanjutnya ya!

Seperti yang saya sebutkan di awal, Patjar Merah merupakan festival literasi kecil dan pasar buku keliling. Penggagasnya adalah Windy Ariestanty dan Irwan Bajang.

Mengutip dari instagram Patjar Merah, nama Patjar Merah sendiri diambil dari nama tokoh utama dalam novel Patjar Merah Indonesia karangan Matu Mona. Diceritakan bahwa si Patjar Merah adalah seorang pemuda cerdik yang gemar membaca, dan memiliki kecintaan sangat besar pada negaranya. Ia menjadi sosok yang paling dicari dalam dunia spionase internasional. Ia bisa muncul di mana pun, kapan pun tanpa bisa diduga. Pemikiran-pemikirannya tentang nasionalisme begitu visioner dan tak mudah dipadamkan, sehingga membuat para penjajah di negara-negara Asia gentar.

Kisah petualangan Patjar Merah yang inspiratif ini dilanjutkan oleh Kak Windy dan kawan-kawan dalam bentuk kerja-kerja literasi, serta menciptakan akses baca yang merata. Tak heran juga jika kemudian penyelenggaraan Patjar Merah berpindah dari satu kota ke kota lainnya.

Ada Apa di Patjar Merah?

Di acara Patjar Merah, pengunjung bisa menemukan ribuan judul buku dari berbagai penerbit. Mulai dari fiksi, non fiksi, sejarah, filsafat, sosial, hukum, parenting, psikologi, dan buku anak. Buku-buku tersebut dijual dengan harga yang murah, malahan ada yang diberi diskon hingga 80%.

Patjar Merah di Eks Bioskop Kelud

Tak sekedar belanja buku murah, pengunjung juga bisa mengikuti sesi obrolan patjar dan lokakarya yang diselenggarakan pada jadwal-jadwal tertentu setiap harinya. Sebagian besar sesi tersebut digratiskan. Pengunjung hanya perlu mendaftarkan diri terlebih dahulu secara daring melalui website atau aplikasi Patjar Merah. Tema yang diangkat tentu seputar literasi, dan berbagai bidang lain yang turut menopang perkembangan dunia literasi di Indonesia.

Menariknya, dari 2 perhelatan Festival Patjar Merah, semua sesi diisi oleh pembicara tersohor dan dikenal mumpuni di bidangnya. Sebut saja Seno Gumira Adji, Aan Mansyur, Kalis Mardiasih, Ivan Lanin, Reda Gaudiamo, Maryssa T. Sari, Yusi Avianto Pareanom, Alexander Thian, Bernard Batubara, Puthut EA, Ria Pappermoon, Valiant Budi, dan masih banyak lagi.

Jadi, selain pulang membawa buku, pengunjung juga mendapatkan banyak ilmu serta semangat baru dari sesi obrolan dan lokakarya di Patjar Merah. Menarik!

Halo, Patjar Merah Malang

Patjar Merah Malang hadir dengan tema “Merawat Toleransi”. Mengutip dari takarir instagram Patjar Merah, tema ini diangkat sebagai salah satu cara untuk menjaga Indonesia. Patjar Merah Malang berusaha menarasikan soal toleransi lewat kerja-kerja literasi.

Patjar Merah Malang

Saya beruntung bisa hadir di Patjar Merah Malang walaupun hanya di hari terakhirnya. Diselenggarakan dengan konsep terbuka di Eks Bioskop Kelud yang sudah lama tak beroperasional, Patjar Merah selalu ramai dengan pengunjung.

Festival Literasi di Malang

Sebelumnya saya sudah menyimak unggahan di akun instagram Patjar Merah bagaimana antusiasme pengunjung sejak hari pertama. Buka mulai pukul 09.00 WIB, Patjar Merah nyaris tak pernah sepi. Bukan sekedar datang melihat-lihat, tapi sungguh membeli buku. Antrean di kasir selalu mengular nyaris setiap hari.  

Hal ini saya buktikan sendiri saat tiba sekitar pukul 10.00 WIB di eks Bioskop Kelud. Masih cukup pagi, tapi area parkir kendaraan sudah terisi hampir separuh.

Tenggelam di Antara Buku

Setelah berfoto sejenak di gerbang depan dan menitipkan ransel, saya lalu bergegas masuk. Di dalam, saya terpana menyaksikan ‘arena sirkus’ Patjar Merah yang memang betul sudah ramai saja. Para Patjarbokoe (sebutan untuk pengunjung Patjar Merah), ada yang sedang asyik membaca buku incarannya. Ada pula yang sibuk mondar-mandir berburu buku untuk (lagi dan lagi) dilemparkan ke keranjang belanja. Sedangkan sisanya sedang duduk manis mengikuti sesi obrolan patjar di panggung 1 dan panggung 2.

Sesi Patjar Merah Bersama IDN Times

Saya sendiri memutuskan untuk berkeliling dulu sebelum mengikuti sesi obrolan patjar. Bersama patjarbokoe lainnya, saya bergerilya di antara tumpukan buku-buku yang menggunung. Selain mencari judul buku incaran, mata saya beberapa kali terpaku pada banyak judul buku yang covernya nampak menarik. Berhenti sebentar membaca sinopsisnya, lalu menimbang-nimbang perlukah dibawa ke meja kasir, hehehe… Dengan beberapa pertimbangan, saya memutuskan untuk tak buru-buru meminang buku-buku tersebut. “Nanti dululah, toh masih sampai malam di sini,” pikir saya ketika itu.

‘Menonton’ Keriaan Para Patjarbokoe

Namun ada hal lain yang tak kalah menarik dari tumpukan buku-buku di hadapan saya. Adalah semangat Patjarbokoe Malang yang meninggalkan kesan berbeda di benak saya hingga saat ini. Di Patjar Merah Malang, saya dibuat terheran-heran sekaligus kagum. Saya bisa melihat wajah-wajah penuh kegembiraan, mata yang berbinar, serta tubuh yang seakan tak lelah menyusuri rak demi rak buku. Belum lagi saat melihat banyak Patjarbokoe menyeret keranjang belanja yang sudah nyaris penuh dengan buku-buku yang akan mereka beli. Kawan saya sepakat soal yang satu ini. Malahan ia berkata, pemandangan tersebut tak banyak ia lihat saat datang ke Patjar Merah Yogyakarta.

Patjar Merah Malang

Patjarbokoe dari berbagai usia tumplekblek di Patjar Merah Malang merayakan kecintaan mereka pada literasi. Padahal saat itu sebagian besar mahasiswa di Malang sedang libur kuliah. Saya bisa membayangkan jumlah Patjarbokoe yang hadir pasti akan lebih besar seandainya Patjar Merah diselenggarakan tak bertepatan dengan waktu libur mahasiswa di Malang.

Di tengah ramainya isu soal rendahnya minat literasi masyarakat Indonesia, hal ini tentu membuat saya bertanya-tanya. Benarkah minat literasi masyarakat Indonesia itu rendah? Ataukah distribusi buku yang belum sempurna sehingga akses baca belum merata? Bisa juga karena perkara harga beberapa buku yang kurang terjangkau? Rasa-rasanya melihat antusiasme para Patjarbokoe Malang, isu tersebut bisa sedikit terjawab.

Sesi Luar Biasa di Patjar Merah Malang

Selain berburu buku dan menonton keriaan Patjarbokoe, saya juga mengikuti 2 sesi obrolan patjar pada hari itu. Pertama, sesi obrolan Digital Storytelling” bersama Mizter Popo dan Don Andrey (tempat bercakap). Kedua, sesi obrolan Cerita-Cerita Toleransi dari Perjalanan” bersama Alexander Thian, Windy Ariestanty, Ria Papermoon, dan Valliant Budi Yogi. Kedua sesi obrolan patjar tersebut sungguh berkesan. Ada banyak catatan-catatan penting yang membekas di ingatan.

Obrolan Patjar "Digital Storytelling"

Dari sesi “Digital Storytelling” misalnya. Mizter Popo berbagi cerita tentang pengalamannya mengembangkan Podcast bertema horor “Do You See What I See?”, serta Don Andrey dengan akun instagramnya @tempatbercakap.

Pesan paling melekat yang saya tangkap dari keduanya adalah perihal jangan cepat menyerah, konsistensi dalam berkarya, hingga pengingat untuk membuat konten yang berkualitas. Konten jangan hanya keren, tapi juga harus bernilai dan bermanfaat untuk penikmat di luar sana.

Di Penghujung Hari…

Sesi obrolan patjar “Cerita-Cerita Toleransi dari Perjalanan” menutup gelaran Patjar Merah Malang dengan sangat luar biasa. Dijadwalkan hanya 2 jam, tapi sesi ini baru selesai menjelang pukul 22.00 WIB. Para patjarbokoe yang hadir dan tak kebagian kursi, rela berdiri menyimak obrolan hingga selesai. Di tengah dinginnya udara Kota Malang malam itu, semangat perihal toleransi dalam perjalanan justru menghangatkan suasana obrolan patjar. Ini menjadi penutup akhir pekan yang sangat menyenangkan. (Lengkapnya tentang sesi ini akan saya ceritakan di artikel selanjutnya.)

Eks Bioskop Kelud

Selesai sesi tersebut, saya menemani kawan berburu tanda tangan para pembicara. Dari barisan antre, saya sempat melihat ke ‘arena sirkus’ Patjar Merah Malang. Masih terlihat beberapa pengunjung yang membayar buku di area kasir. Sementara di area pameran buku sudah mulai lengang.

Saya menghela napas dan menatap satu per satu wajah Patjarkita (sebutan untuk para relawan Patjar Merah) yang masih nampak bekerja di antara tumpukan buku-buku. Saya membatin, “Ah, luar biasa sekali. Kalian pasti akan sangat dirindukan.”

Akhir pekan saya sungguh berkesan. Mulai dari tenggelam di antara ribuan buku, menonton keriaan Patjarbokoe Malang, menikmati suasana di dalam eks Bioskop Kelud yang pernah tersohor pada zamannya, hingga mengisi ulang semangat di sesi obrolan patjar. Semoga Patjar Merah panjang umur, dan saya bisa berjumpa kembali di kota lainnya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: