Menuju Sukses Vs Kapitalisme : Lalu Kenapa?

Sukses itu peduli. Kalimat tersebut saya temukan ketika membaca official magazine armada taksi ‘burung biru’ saat sedang dalam perjalanan menuju Stasiun Tawang beberapa waktu lalu. Tepatnya kalimat tersebut merupakan judul artikel yang ditulis oleh Billy Boen, Founder & CEO PT YOT Nusantara.

Peduli yang seperti apa? Singkat saja, menurut Billy Boen, peduli pada rekan kerja dan pada perusahaan tempat kita bekerja. Itu adalah salah satu kunci untuk menjadi orang yang sukses. Lebih peka dan lebih pedulilah jika mau menjadi orang sukses.

Apa yang ditulis dalam artikel tersebut sejalan dengan prinsip kerja yang selama ini saya pegang. Untuk sukses, kita harus peduli. Bukan hanya peduli pada diri sendiri, tetapi juga peduli pada perusahaan dan rekan kerja. Kok? Loyal Sekali…??

Memaknai sukses

Dulu, prinsip kerja saya ini pernah berusaha dipatahkan oleh seorang kawan kantor saat kami sedang ngobrol ringan di awal perkenalan. Ketika itu saya ditanya, “apa makna sukses buatmu?”

Bagi saya, sukses bukan hanya ketika saya memegang sebuah jabatan tinggi dan bergaji besar. Sukses dalam pekerjaan adalah ketika saya bisa mengaktualisasikan diri dan meningkatkan kemampuan diri. Dengan hal tersebut saya bisa memberikan kontribusi bagi perusahaan, serta membantu rekan kerja yang lain untuk bisa berkembang juga.

Kalau saya tidak bisa berkontribusi baik bagi perusahaan dan rekan kerja, artinya saya belum sukses. Simpel. Tidak perlu dipikir ruwet. Nanti malah jadi sesat pikir.

Jawaban tersebut terkesan sangat idealis bagi kawan saya ketika itu. Prinsip kerja yang menurutnya kalah garang dengan sistem kapitalisme yang ‘perkasa’ di dunia kerja saat ini.

Kalau kita berusaha melihat wajah kapitalisme klasik dari Das Kapital Karl Marx, kapitalisme memang mengerikan. Ia tergambar layaknya hantu raksasa yang seringkali tidak disadari kehadirannya. Tahu-tahu kita sudah dalam keadaan alienasi saja. Walaupun sekarang ini memang wajah kapitalisme nampak lebih humanis, tetapi bukan berarti seketika ia menjadi cukup manis.

Lalu kenapa?

Ada yang salah dengan punya prinsip kerja: “sukses itu peduli”, di tengah kekuatan sistem kapitalisme? Bukankah kepercayaan dan ketakutan pada kekuatan kapitalisme yang justru mematikan semangat untuk merealisasikan prinsip tersebut di lingkungan kerja?

Pada level paling dasar, manusia bekerja memang untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun, perlu diingat bahwa manusia bukan sekedar homo laboran tapi juga homo faber. Bekerja memiliki orientasi individual dan juga orientasi sosial.

Pada orientasi individual inilah yang saya maksud bahwa melalui pekerjaannya manusia harus bisa mengaktulisasikan dan mengembangkan dirinya. Sementara pada orientasi sosial, melalui kerja yang dilakukan, manusia harus bisa peduli kepada orang lain. Sosialitas membingkai kehidupan manusia sehingga kerja pun tidak bisa terlepas dari tanggung jawab dan sikap peduli pada orang lain.

Coba saja tilik sedikit pemikiran Heidegger – salah satu filsuf Jerman yang pemikirannya tentang “Being and Time”sangat menarik untuk diselami lebih dalam – bahwa inti ‘adanya manusia adalah karena ada bersama orang lain’.

Jadi…

Dari pemikiran Heidegger tersebut, saya rasa tidak ada orang yang bisa sukses tanpa bantuan orang lain. Terlepas dari apapun itu proses dan bentuk bantuannya.

Lalu, kenapa kita tidak mengupayakan untuk mengantarkan orang lain pada level suksesnya? Pun, sama seperti saat kita diantarkan untuk sampai pada level sukses kita saat ini oleh orang lain.

Orang sukses tidak pernah takut kalau ada orang lain mengikuti jejaknya. Ia bahkan tidak takut saat orang lain bisa mencapai level yang lebih tinggi. Setidaknya begitulah pemikiran saya sebelum dan setelah menjejaki dunia kerja dalam tahun-tahun belakangan ini.

04.2020 – Dari Pojokan Sebuah Cafe Mungil di Salah Satu Sudut Kota Semarang –

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: